Ketika aku membicarakan tentangmu, aku belum tahu akan merasakan seperti ini, semua perasaan bergulung tergelut dalam benakku, membuatku kehilangan tempat berpijak. Ketika akhirnya tiba masa pertemuan itu, rasa itu mengatakannya padaku, yang sudah lama menunggu untuk keluar dari kelamnya dasar tak berujung.

Pertemuan yang selama ini selalu menjadi pertanyaan, ketika semesta akhirnya memberikan kesempatan untuk saling menemukan. Celah yang dirasuki oleh harapan manusia. Tercemar dengan rasa rindu.

Pertemuan yang terpaut dengan keingintahuan untuk melihat lebih. Jalan yang telah diputuskan oleh Allah. Penantian yang terus kutunggu dan membuatku mempertanyakan keberadaanmu. Aku harus terus melangkah.

Atas semua hal yang buram, semua keraguan, luka di hati. Menantimu dalam kerinduan dan batas waktu. Rasa itu telah ada jauh sebelum momen kita bertemu. Akan kah aku tersesat dalam rasa itu? Akankah kutemukan jawaban itu?

Terpaut antara pilihan menunggu atau melewatkan kesempatan. Sehingga meragukan kedewasaan itu. Batasan yang segera berakhir. Akankah melangkah kedepan atau berhenti. Angin segar yang menyesakkan.

Picture Credit

 

 

 

 

Advertisements
Posted by:Tria Dara Barlian

04:07 we can start to send out messages in a bottle, we can sing, write poetry, produce books, and blogs activities, stemming from the realization that people around us won't ever fully get us, but that others separated across time and space might.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.