Mimpi itu jenaka. Mengendap-endap dalam gelisah malam. Menyelinap lembut dalam ketidakberdayaan. Dan akhirnya kau terlena, terjerumus dalam angan. Dan kau bertanya, apa makna dari mimpi itu, yang sekonyong-konyong hinggap tak tahu malu. Menggoyahkan realitas.

Ketika kau kembali tersadar, terkagetkan oleh keinsafan. Perjuangan panjang melawan diri. Menerka seberapa jauh kau tersesat. Meninggalkan tempatmu berpulang.

Lalu kau bertanya, apa yang menggerakkan hatimu, yang selama ini dibungkus erat. Gunung tinggi yang kau jaga, luluh lantak kehilangan pegangan. Langkah tangguh yang tak kau sadari selama ini, yang diam-diam telah hinggap, mengawasi peluang.

Picture Credit

Advertisements
Posted by:Tria Dara Barlian

04:07 we can start to send out messages in a bottle, we can sing, write poetry, produce books, and blogs activities, stemming from the realization that people around us won't ever fully get us, but that others separated across time and space might.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.