Bawa aku menikmati hujan, di dalam nyamannya kegelapan yang menyeru. Mendengar syahdunya suara gemuruh air berjatuhan, menyeruput kopi susu panas. Berbincang dalam hangatnya tawa, mengabaikan percakapan memudar dari jauh. Atmosfer yang kerap mengikatku, tenggelam dalam untaian pesona melodi akustik. Meresapi kata hati. Diam-diam hujan memandangi kita, membiarkan dirinya terjatuh. Malam itu hujan menjadi saksi mata tentang kebahagiaan. Memandangi rahasia anak manusia dalam sunyi. Diam-diam hujan berdoa, memohon agar Tuhan mendatangkan berkah kepada kami. Aku percaya doa hujan itu tulus, menghadiahkan dirinya kepada bumi, walaupun pada akhirnya ia sungguh lenyap dari bumi. Selalu kutunggu kedatanganmu selanjutnya, Hujan.

 

Picture credit

Advertisements
Posted by:Tria Dara Barlian

04:07 we can start to send out messages in a bottle, we can sing, write poetry, produce books, and blogs activities, stemming from the realization that people around us won't ever fully get us, but that others separated across time and space might.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.