Pasa saat proses healing, saya menemukan buku ini. Berjudul semua ada saatnya, karangan Syaikh Mahmud Al-Mishri, terjemahan Ust. Abdul Somad, Lc., MA. Kala itu Saya merasakan lelah sekali, dan butuh sebuah tempat untuk rehat sejenak. Hablum minallah saya kurang dan Hablum minannas pun begitu. Hanya melalui media sosial. Saya akui, media sosial benar-benar membuat pikiran menjadi tidak sehat. Tidak ada interaksi langsung, hanya kata demi kata yang dikirimkan melalui tulisan, demi basa basi semata dan sungguh melelahkan melihat updatean demi updatean yang tidak ada sangkut pautnya dalam kehidupan nyata, semua hanya demi sebuah pengakuan panggung dunia maya.

Saya merasa ini ada yang tidak beres. Berjam-jam waktu habis hanya untuk memainkan media sosial. Kemudian saya memutuskan untuk rehat sejenak dari semua media sosial yang saya miliki. Selama kurang lebih 1 (satu) minggu saya absen dari dunia maya, rasa akhirnya merasakan improvement yang luar biasa, pikiran jernih, lebih tenang dan ikhlas.

Salah satu alasannya adalah saya mulai membaca kembali buku-buku pembuka hati yang selama ini sudah lama ditinggalkan. Padatnya waktu untuk bekerja, menyadarkan saya bahwa saya perlu berhenti sejenak, untuk melihat kemana diri ini akan melangkah. Mengambil pilihan atas langkah yang akan dan sedang dilalui. Betapa bahagianya saya menemukan buku ini, buku yang memulihkan jiwa saya. Buku yang mengajarkan keindahan Islam melalui cerita-cerita ringan, namun tepat sasaran. seperti kutipan perkataan Ali bin Abi Thalib:

“Hiburlah hatimu. Siramilah ia dengan percik-percik hikmah. Seperti halnya fisik, hati juga merasakan letih.”

Saya sangat suka sekali buku ini, karena memberikan Saya kemantapan hati dan pembelajaran luar biasa mengenai nikmat Allah SWT. Tak jarang dalam membaca cerita di dalam buku tersebut Saya menitikkan air mata. Betapa Allah SWT selama ini melindungi Saya sekeluarga dan orang-orang terdekat saya. Dari buku itu kita diberikan pemahaman untuk bertawakkal kepada Allah SWT walaupun keadaan sangat sulit. Cerita-cerita keajaiban kuasa Allah SWT yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan beberapa cerita mengingatkan bahwa selama ini saya juga telah melakukan beberapa kelalaian. Sebuah reminder yang baik, agar kelak menjadi menusia yang tidak merugi.

Ada salah satu cerita yang mengena di Saya,

Nasihat Termahal bagi Mereka yang menemui Sultan

Iman Abu Hanifah berkata kepada Abu Yusuf muridnya, “Wahai Ya’qub, muliakanlah sultan, agungkanlah kedudukannya. Janganlah engkau berdusta dihadapannya. Jangan menemuinya setiap saat dan pada setiap keadaan jika tidak ada kebutuhan yang bersifat keilmuan. Karena jika engkau terlalu sering menemuinya, ia akan menyepelekan dan mengecilkanmu. Kedudukanmu menjadi kecil di hadapan matanya. Bersikaplah engkau kepadanya sebagaimana sikapmu terhadap api, engkau menggunakan manfaatnya, akan tetapi engkau menjauhinya dan tidak mendekatinya, karena engkau akan terbakar dan tersakiti. Karena sultan itu melihat dirinya tidak seperti orang lain memandang diri mereka. Jangan banyak bicara di depan mereka, karena ia akan memanfaatkan kekeliruanmu untuk menunjukkan kepada orang-orang yang ada disekelilingnya bahwa ia lebih berilmu daripada dirimu. Dengan kekeliruanmu itu maka engkau terlihat kecil di hadapan orang banyak. Jika engkau menemui sultan, ketahuilah siapa dirimu dan siapa orang lain. (Al-Mishri, 2011 : 203)

Dan hal ini saya amini dari sebelum bekerja sampai sekarang. Semoga kita semua diberi kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Aamiin ya rabbal alamin.

Atau seperti doa yang Saya kutip dari Kementerian Agama RI, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ketegaran dalam menghadapi segala permasalahan. Aku memohon dengan sangat kepada-Mu untuk berkenan memberikan curahan petunjuk, serta aku memohon kepada-Mu dapat mensyukuri nikmat dan rajin melakukan ibadah. Aku memohon kepada-Mu lisan yang jujur dan hati yang lurus. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang Engkau ketahui, dan aku memohon kepada-Mu kebaikan yang Engkau ketahui, serta aku memohon kepada-Mu curahan ampunan dari segala dosa yang Engkau ketahui. Sebab hanya Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib.”

Advertisements
Posted by:Tria Dara Barlian

04:07 we can start to send out messages in a bottle, we can sing, write poetry, produce books, and blogs activities, stemming from the realization that people around us won't ever fully get us, but that others separated across time and space might.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.