Fenomena Infinite Scrolling pada Sosial Media

Pernah kepikiran ga sih kenapa media sosial itu begitu adiktif? Kenapa yang awalnya niat bentar aja main media sosial malah menghabiskan waktu berjam-jam melakukan infinite scrolling. Jadi infinite scrolling itu apa sebenarnya? Ok mari kembali kepada awal abad ke-20 dimana kita terbiasa dengan stopping cues. Secara general, stopping cues adalah sebuah sinyal bagi kita untuk melanjutkan kegiatan lain, melakukan sesuatu yang baru atau sesuatu yang berbeda ketika selesai melakukan sesuatu. Contohnya ketika film telah selesai, maka kita akan berhenti kemudian mematikan televisi/laptop/smartphone, tidak terpaku lama pada device tersebut. Namun saat ini media sosial tidak lagi memiliki stopping cues.

Dengan hilangnya stopping cues dari media sosial maka kita akan cenderung untuk melakukan scrolling tanpa ujung (infinite scrolling). Tidak ada lagi batasan konten, akan selalu muncul konten-konten yang serupa sesuai dengan preferensi kita. Fenomena ini terjadi pada media sosial seperti facebook, instagram, youtube, email, portal berita dan aplikasi pesan/chat. Aplikasi tersebut didesain sedemikian rupa sehingga kita terjebak ke dalam loop hole penggunaanya. Tidak seperti media tradisional koran yang akan habis dibaca, atau siaran televisi yang habis waktu tayangnya, aplikasi terbaru tidak memiliki batasan untuk kita berhenti menggunakannya. Scrolling menjadi hal yang biasa, tidak ada ujungnya, orang-orang terus disuguhi hal-hal yang menarik minat.

Fenomena ini menyebabkan orang semakin lama menghabiskan waktunya di depan layar. Karena smartphone hampir menyediakan semua kebutuhan sekunder melalui ketukan jari. Interaksi antar manusia sudah mulai berkurang dan waktu penggunaan smartphone semakin meningkat. Kalau sudah begini maka yang dirugikan adalah user. Sisa waktu kurang lebih 5 jam yang tersisa dalam 24 jam setelah dikurangi waktu untuk tidur, bekerja dan bertahan hidup seperti makan dan menggunakan toilet termakan dengan kegiatan infinite scrolling tersebut. Dalam waktu pribadi singkat tersebut, mencoba untuk mengikuti perkembangan dunia, mencari informasi terbaru, atau sekedar menjernihkan dari kejenuhan, merehatkan diri telah membuat orang-orang semakin tidak bahagia. Perubahan teknologi tersebut telah menggeser fungsi pokok telepon untuk menghubungi orang menjadi smartphone yang menyedot atensi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.